widget

20 Feb 2013

Haji Misbach: Antara Islamisme dan Komunis




“… di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama.”



Mungkin di dalam sejarah bangsa Indonesia tokoh ini tidak akan pernah seterkenal seperti tokoh- tokoh golongan kiri lainnya seperti Tan Malaka maupun Semaon namun dari pemikirannya terlahir sebuah paham keagamaan yang mampu progresif dan memiliki nilai kebangsaan untuk melakukan gerakan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan pada masa kolonial Belanda.
            Namanya Misbach, terlahir dari keluarga golongan santri di kota Surakarta/Solo sosoknya kemudian berubah menjadi sosok yang kontroversial, dengan pemahaman ideologinya yang berusaha memadukan Pan Islamisme dengan Komunisme yang digunakannya untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan penjajahan di kalangan masyarakat Surakarta saat itu. Sejak kecil Misbach yang merupakan putra dari seorang pedagang batik ini sudah mulai terbiasa dengan lingkungan disekitarnya yang memiliki pemahaman agama Islam cukup kuat, karena Misbach sendiri yang bernama kecil Ahmad ini dilahirkan dilingkungan Kraton Kasunanan Surakarta dekat dengan alun- alun utara Surakarta dan Masjid Agung Surakarta. Menjelang dewasa Misbach kemudian tumbuh menjadi pribadi yang sederhana dan ramah kepada setiap orang yang membuat dirinya tidak pernah membedakan status priyayi dengan golongan proletar seperti petani maupun buruh, bahkan dirinya setelah memiliki gelar haji sekalipun tetap memposisikan dirinya sebagai sosok yang merakyat dengan tidak memilih menggunakan sorban ataupun peci haji melainkan memakai ikat kepala jawa yang mengkhaskan dirinya sebagai sosok putra Jawa yang memperjuangkan kepentingan golongan- golongan proletar dengan tetap memegang teguh ajaran- ajaran agama yang dianutnya.
Di tahun 1914 Misbach mulai aktif dalam pergerakan diawalinya dengan bergabung bersama IJB (Indlandsche Journalisten Bond) yang kemudian juga bekerjasama dengan Marco yang sering juga disebut menjadi salah satu tokoh dari SI (Sarekat Islam), di tahun 1915 Misbach menerbitkan Medan Moeslimin, kemudian pada tahun 1917 dengan Islam Bergerak Misbach semakin berjaya membangun propaganda pada tataran masyarakat Surakarta saat itu, surat- surat kabar bentukan Misbach ini menjadi gerakan yang populer di wilayah Surakarta dan sekitarnya sehingga pada saat itu sangat mudah sekali membangun perlawanan masyarakat untuk menentang pemerintahan kolonial Hindia- Belanda. Kemudian dari media ini Misbach mulai berubah menjadi sosok yang propagandis dan populis bagi kalangan kaum pekerja/buruh.

Agama Bukan Slogan, Namun Gerakan
            Menjadi sosok pemuka agama seperti Misbach yang mengakui dirinya sebagai seorang haji tentu bukan perkara mudah untuk mengaplikasikan ilmu- ilmu agama yang telah di dapatnya kepada umat sebagai bentuk pengabdiannya sebagai seorang muslim dan sebagai seorang haji. Nampaknya pun demikian dengan tokoh- tokoh agama saat ini yang memiliki pandangan religius cukup kuat dari sekian banyak peristiwa yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Namun apakah agama hanya membuat seorang sosok Misbach hanya berdiam diri di bawah bendera penindasan dan imperialisme kolonial? Tentu tidak, inilah yang diharapkan dari sifat dan pandangan ideologisnya yang mencoba untuk menjadi Komunis walaupun statusnya adalah seorang haji sehingga tak banyak yang memberi julukan kepadanya sebagai haji merah yang populis.

            Asumsi saya kemudian menegaskan dari cara pandang dan berpikir orang- orang golongan kiri melalui kutipan kata ini “Ada sebuah cerita tentang kehidupan petani jawa yang miskin dan di upah sangat kecil oleh para tuan- tuan tanah, petani- petani miskin ini mengabdi kepada tuan tanah dan bekerja, mendapat upah namun tak seberapa. Upah- upah itu sama sekali tidak berharga. Jangankan bisa dikumpulkan untuk membeli tanah, untuk membeli baju pun teramat sulit. Kemudian cerita berlanjut. Sang utusan kemudian bertanya kepada petani Jawa: “mungkin sampean- sampean disini banyak yang ingin bertanya: Apakah tuan tanah itu beragama?” Ya tuan- tuan tanah itu beragama, juga orang- orang miskin yang dipekerjakan juga beragama. Mereka bertuhan dan beribadah tetapi, agama inilah yang membuat buruh tani tidak punya keinginan sama sekali untuk merubah nasibmereka sendiri. Agama- agama inilah yang membuat buruh tani menjadi bodoh dan semakin melarat, bahkan buruknya agama- agama ini semakin mengontrol para petani untuk taat kepada tuan- tuannya.”(Dharmawan 2011:30)
Sebuah kutipan yang bagi saya merupakan menjadi dasar berpikir dari Misbach sendiri untuk melakukan pergerakan bagi para kaum pekerja untuk berani melawan, dan berani untuk keluar dari ketertindasan kolonial masa itu. Cara berpikir yang populis dan berani dari sosok Misbach mungkin yang akan diungkapkan oleh Marco yang mengenal Misbach selama ini, seorang haji sekaligus seorang pedagang yang sadar akan penindasan kolonialis Belanda dan tertarik dengan ide- ide revolusioner yang mulai menerpa Hindia (Indonesia) pada saat itu.
Sehingga dapat dikatakan pemikiran Misbach sendiri juga tidak akan pernah terlepas dari beberapa tokoh Komunis maupun gerakan radikal kiri yang sedang populer pada saat itu, seperti SI (Sarekat Islam) yang terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih yang kemudian populer dengan sebutan SI Sayap Kiri dengan Semaoen sebagai pimpinannya kemudian memberikan pandangan baru untuk melakukan gerakan bagi Misbach untuk melakukan aksi- aksi pemogokan dan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Dengan demikian Misbach bukanlah semacam haji yang menerima mentah- mentah pemahaman agama tanpa mengaplikasikan secara nyata untuk melakukan revolusi dan terbebas dari penjajahan, namun sebaliknya Misbach selalu beranggapan bahwa keberadaan Islam sebagai agama di dalam kehidupannya sudah seharusnya memerdekakan dirinya dan masyarakat tertindas lainnya, sehingga gerakan Komunis yang dipilihnya sebagai suatu jalan untuk melakukan pembebasan tersebut sebagai seorang yang beragama dan bertuhan.

Sudah Saatnya Menanam Kebencian Pada Penindasan
Setelah banyak membicarakan dasar dari pemikiran Misbach yang lebih mementingkan kepentingan para kaum pekerja dan masyarakat tertindas tentu saja hal ini tidak akan terlepas dari kebencian Misbach terhadap lingkungan ditempatnya tinggal di wilayah Kauman, Surakarta yang terdiri dari pemuka agama dan  hanya berdiam diri ketika melihat situasi kemiskinan yang semakin terjadi pada petani dan buruh. Sebuah kebencian yang mendalam dari Misbach sehingga ia mengatakan hal yang demikian “… di mana-mana golongan Rajat Misbach mempoenjai kawan oentoek melakoekan pergerakannya. Tetapi didalem kalangannya orang-orang jang mengakoe Islam dan lebih mementingkan mengoempoelken harta benda daripada menolong kesoesahan Rajat, Misbach seperti harimau didalem kalangannya binatang-binatang ketjil. Kerna dia tidak takoet lagi menyela kelakoeannja orang-orang yang sama mengakoe Islam tetapi selaloe mengisep darah temen hidoep bersama.” Misbach melihat tidak semua golongan Islam berpihak kepada rakyat, masih banyak golongan- golongan pemuka agama Islam yang hanya mementingkan kekayaan pribadi daripada menolong kesusahan rakyat yang menderita karena penjajahan pemerintah colonial saat itu.



 Hal inilah yang kemudian membuat Misbach semakin kuat melancarkan pengorganisiran serta pemogokan kerja terhadap petani tahun 1919 dan membuat basis- basis pergerakan rakyat di Surakarta. Akibat aksi yang dibuatnya Misbach serta beberapa pimpinan aksi lainnya ditangkap oleh pemerintah kolonial di tahun 1920 dan Misbach di bebaskan kembali ke Surakarta pada tanggal 22 Agustus tahun 1922. Kembalinya Misbach dari pengasingan dan penangkapan tidak membuatnya jera untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda, di tahun 1923 Misbach kembali muncul sebagai propagandis Sarekat Islam Merah, ia kemudian menyuarakan tentang keselarasan antara paham kiri dan Islam.
Selain menjadi kaum propagandis untuk golongan petani dan buruh di Surakarta saat itu, Misbach juga menjadi sosok yang mencintai kesenian Jawa dan  mudah bergaul dengan kelompok anak muda Surakarta penikmat musik Klenengan (musik Jawa) dengan tembang yang sedang populer, sehingga dalam bidang kesenian Misbach sendiri merupakan sosok yang masih tetap mempertahankan tradisi tanah kelahirannya yang juga menjadi kawan berbincang bagi para pemuda yang menekuni kesenian musik Klenengan dan pertunjukan Wayang Kulit di Surakarta.

“Jangan Takut, Jangan Khawatir”
            Perlawanan Misbach terhadap antek- antek kapitalis tidak hanya berhenti melalui menggalang aksi- aksi pemogokan kerja bagi para buruh dan petani di wilayah Surakarta namun juga dalam bentuk perlawanan melalui tulisan. Misbach menjadi salah satu penulis aktif di media Islam Bergerak dan Medan Moeslimin. Banyak kritikannya yang ia tunjukkan kepada orang- orang yang mengaku Islam namun menjadi “Islam Lamisan”, kaum terpelajar yang berkata bijaksana namun menjadi penjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri. Selain itu kebencian Misbach terhadap golongan kapitalis teramatlah besar, siapa yang dianggapnya sebagai antek kapitalis akan dihadapinya melalui tulisan di Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Selain melalui tulisan Misbach juga dikenal karena perbuatannya “Menggerakan Islam” seperti mengadakan tabligh, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, menentang semua penyakit hidup boros dan bermewah-mewahan yang masih belum dapat ditinggalkan oleh segelintir kelompok pada masa itu yang akhirnya tidak mampu melihat apa yang terjadi pada masyarakat yang semakin ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda.
            Melalui Slogannya yang sangat propagandis “Jangan Takut, Jangan Khawatir” seolah- olah Misbach memberikan harapan bagi masyarakat Surakarta saat itu khususnya golongan petani dan buruh bahwa perjuangan belum usai, berani untuk keluar dari ketakutan dan berani keluar dari kekhawatiran yang seakan- akan ingin disampaikan Misbach bahwa sebuah perlawanan yang dilakukan terhadap penindasan harus berani menghadapi rasa takut dan rasa khawatir di dalam diri. Slogan tersebut kemudian yang divisualisasikan Misbach dalam sebuah kartun di Islam Bergerak edisi 20 April 1919, kemudian isinya menusuk kepada kapitalis Belanda yang menghisap petani, mempekerjakan mereka, memberi upah kecil dan membebani pajak kepada mereka. Dengan keberadaan kartun ini memunculkan sebuah gerakan baru bagi para petani untuk melakukan aksi pemogokan, saat itu Paku Buwono X juga menjadi salah satu antek- antek pemerintah kolonial Belanda yang ikut menindas dan mempekerjakan petani dengan upah kecil terkena dampak dari aksi pemogokan para petani.
            Secara tidak langsung Misbach memberikan dorongan kepada para petani maupun para buruh di Surakarta untuk mampu menghilangkan rasa ketakutan mereka dari penindasan, “Jangan Takut digantung, dihukum, dibuang” demikian perkataannya kepada rakyat yang kemudian mengobarkan sebuah semangat perlawanan   terhadap kaum- kaum penindas. Karena memang bagi Misbach kapitalisme menjadi biang dari kehancuran nilai- nilai kemanusiaan dan agama rusak pun karenanya.


 Pada tanggal 7 Mei 1919 Misbach tangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan ditahan di Semarang sebelum kemudian dipindahkan ke Manokwari, Papua. Berbagai upaya dari teman- teman seperjuangan Misbach untuk membebaskan Misbach dalam persidangan namun semua hukuman semakin memberatkan Misbach dan ia tetap saja ditahan. Keseharian Misbach pun hanya diisi dengan menulis laporan perjalananya yang berjudul “Islamisme dan Komunisme” dan membaca Al-Quran.
Di tengah ganasnya alam  pengasingan  bersama Istri dan anaknya di Manokwari Misbach menderita penyakit Malaria. Misbach pun meninggal pada 24 Mei 1926 yang kemudian dimakamkan di kuburan Penidi, Manokwari, disamping kuburan istrinya. Walaupun kini sosoknya telah tiada dan hilang tanpa jejak di pengasingan namun sebuah pemahaman tentang sebuah pergerakan agama dan komunis tidak akan pernah luntur dari ingatan sejarah nasional Indonesia. Perannya sebagai seorang haji merah memang tidak pernah banyak diketahui oleh para generasi muda saat ini, namun bagaimana sebuah pemahaman yang akan didapatkan tentang agama yang seharusnya membebaskan, bukan membelenggu pada penindasan, keterpurukan dan kebodohan menjadi sebuah inti dan dasar dari pergerakan Misbach selama ini dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi para petani dan buruh, walaupun harus Komunis yang ia pilih sebagai langkah gerakan melawan penjajahan. “Akhirnya kita sadar bahwa agama bukanlah sebuah teori yang harus saling diperdebatkan satu sama lain untuk mencapai suatu kebenaran, namun kebenaran tersebut akan kita peroleh jika kita mau berjuang dan mau berusaha dalam sebuah pergerakan bukan hanya berdiam diri dan berbicara pada kebohongan diri sendiri.”
Sebuah Kutipan kata- kata Misbach di Medan Moeslimin sebelum ditangkap dan diasingkan:
 “…agama berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa hak persamaan untuk segenap manusia dalam dunia tentang pergaulan hidup, tinggi dan hinanya manusia hanya tergantung atas budi kemanusiaannya. Budi terbagi tiga bagian: budi kemanusiaan, budi binatang, budi setan. Budi kemanusiaan dasarnya mempunyai perasaan keselamatan umum; budi binatang hanya mengejar keselamatan dan kesenangan diri sendiri; dan budi setan yang selalu berbuat kerusakan dan keselamatan umum.”  (A.R.)

Daftar Pustaka:

Dharmawan, Rus.2011.Inkonsistensi Gerakan Radikal Kiri”Praktik Politik Kaum Komunis di Indonesia”.Kreasi Wacana.Yogyakarta

Rakyat Sejahtera.htm “Mengenal Sepak Terjang Haji Misbach” diunduh tanggal 11 Februari 2013


Penulis                   : Angga Riyon Nugroho
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Angakatan 2009


0 komentar:

Poskan Komentar